Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeWilujeng SumpingOct 27, 2005
Kok ketek basabuik namo kok lah kawin basabuik gala...

Photo AlbumTanjung Vatshier dan Oentoeng DjawaJan 4, '09 8:47 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Deskripsinya ntar aja yaa...lagi males menulis...liat aja foto2nya...

Blog EntryAug 11, '08 6:58 AM
for everyone
Informasi yang menarik saya baca di milis artdirectorclub mengenai workshop peta hijau. Sebelumnya saya pernah masuk ke site www.greenmap.or.id, sekedar pengen tahu lebih banyak apalagi yang ada hubungannya dengan hijau-hijau..:)

Maka Sabtu kemarin datanglah saya ke salah satu gedung di jalan Suryopranoto tempat workshop dilaksanakan. Walau di milis peserta dibatasi 25 orang namun saat itu kita semua berjumlah 70-an orang. Dengan beragam profesi, usia dan latar belakang pendidikan. Cukup menarik bagi saya karena hanya di jakarta saya bisa menemukan beragam orang dalam satu kesempatan. Ada ahli geologi, anggota LSM, mahasiswa, corporate secretary, pekerja film, pengarah seni, pekerja tambang dan lain-lain.


Ada presentasi dari pelopor Bike To Work, ada komunitas KRLMANIA dan Transjakarta. Kemudian penjelasan dari Marco Kusumawijaya, arsitek dan Ketua DKJ yang juga penggagas peta hijau di Jakarta. Ternyata peta hijau sudah berkembang luas, banyak daerah yang telah memiliki peta hijau dan berbagai jenis informasi. Jogjakarta dengan peta hijau jalur sepeda, peta hijau Aceh bahkan peta hijau...Bukittinggi! Wahhh saya kaget ternyata kota kelahiran saya telah dibuat peta hijaunya. Walau peta hijau Bukittinggi yang dibuat oleh Mas Marco dibilang paling tidak partisipatif dalam pembuatannya, hanya dikerjakan
oleh 5 orang, itupun mahasiswa Universitas Bung Hatta yang didatangkan dari Padang. Nah lho..orang Bukittinggi sendiri manaa...ya sutralah daripada membahas soal karakter orang suatu daerah lebih baik menikmati pengetahuan baru soal informasi yang berbentuk peta hijau.

Siangnya kami sengaja diajak praktek pengamatan dan pencatatan lokasi atau objek yang layak masuk peta hijau, sebagai bahan pembuatan peta hijau Jakarta yang lebih lengkap lagi. Berjalan dibawah terik matahari dari jalan Suryopranoto sampai lapangan Monas. Ditutup dengan presentasi oleh masing-masing kelompok soal pengamatan yang telah dilakukan dan acara puncak...foto bersama..:) Semoga bisa berkumpul kembali dan menambah pengetahuan lagi.

Photo AlbumPermak LivaisMar 6, '08 2:20 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kata disusun dari beberapa huruf dan punya arti. Penyusunan huruf-huruf tersebut punya ketentuan yang baku sehingga tidak merubah arti. Tapi itu dulu atau dalam aturan buku... Sekarang kita bisa menikmati kata baru dengan arti yang sama karena pemakaian huruf yang berubah atau ada huruf yang diganti. Cukup menarik untuk diikuti dan dinikmati. Yuk mariii....

Blog EntryJan 3, '08 11:48 PM
for everyone
Menjelang libur akhir tahun saya memutuskan mengikuti acara boxing day yang diadakan kantor. Besoknya setelah presentasi ke klien dengan beberapa teman, saya menuju Plaza Senayan untuk mencari kado yang murah meriah dan sesuai dengan budget yang sudah ditentukan. Jelas bukan pekerjaan yang mudah apalagi buat saya yang cukup buta dengan pilihan yang tepat apa yang pantas sebagai kado. Setelah keliling beberapa saat di Sogo saya dan teman menemukan benda yang cocok. Tinggal satu teman yang masih hunting dan mencoba ke Metro sekalian membawa titipan teman kami untuk dibungkus di tempat wraping service-nya. Hanya dalam beberapa kali putaran, teman itu telah menemukan benda yang cocok dan kami langsung menuju salah satu pojokan di lantai tersebut untuk membeli bungkus kado. Disana telah antri beberapa orang yang punya niat seperti kami. Salah satu mbak-mbak yang melayani bertanya, “Bapak mau bungkus kado, barangnya beli di Metro kan?” Teman saya menjawab iya tapi saya hanya mengangkat kantong belanjaan dengan logo Sogo. “Maaf bapak, kalau barangnya bukan dari Metro kami nggak bisa melayani” si mbak tersebut menjelaskan. “Untuk pembelian kertas kadonya bisa disini tapi membungkusnya Bapak sendiri” lanjut si mbak itu. Saya hanya mengangguk sambil berjalan ke tumpukan beragam kertas kado di pojokan. Setelah memilah-milah beberapa saat saya tak menemukan kertas kado yang cocok. Kemudian saya berjalan ke arah pintu keluar melihat tumpukan boks-boks dengan berbagai ukuran. Saat saya melihat salah satu boks tiba-tiba terdengar salah satu pengunjung ibu-ibu yang duduk di sebelah saya dan memanggil pelan,” Mas! Kalau belinya di Sogo, disana juga ada kok tempat layanan bungkus kadonya, dilantai yang jual mainan anak”. Saya kaget dan senang mendengar informasi tersebut. Sambil pamit ke teman saya yang masih menunggu giliran saya pun beranjak dan mengucapkan terima kasih kepada ibu muda yang baik hati itu.
Mencari tempat yang dimaksud cukup mudah buat saya. Walaupun saya bisa langsung naik ke lantai empat setelah melihat di papan informasi dekat eskalator kemudian cukup bertanya sekali kepada salah seorang SPG di lantai tersebut. Setelah sampai di tempat yang dituju saya melihat tiga orang yang antri. Layanan tersebut hanya dilayani oleh dua orang wanita yang bertugas membungkus barang belanjaan menjadi kado yang cantik. Sambil menunggu saya melihat keterampilan dari para petugas wanita disana. Tangan mereka begitu cekatan dalam melipat kertas. Teknis melipat sudah di luar kepala mereka sehingga bisa membentuk kertas menjadi kotak atau kantong hanya dengan double-tip serta sentuhan potongan gunting.
Bukan maksud hati ingin mendengar pembicaraan para petugas disana yang semuanya wanita. Tapi sambil mata saya tetap memperhatikan dan kagum dengan keterampilannya. Telinga saya juga tak bisa untuk menghindar dari apa yang mereka bicarakan. Salah seorang si mbak menanyakan pada temannya keberadaan temannya. “Ina mana, kok gak keliatan?” Lantas temannya menjawab, “Lagi minta ijin pulang cepet, badannya meriang dari tadi”. Kemudian temannya yang lain berkata,”Ya udah kasian tuh, panggil Siti deh biar digantiin”. Tak lama kemudian si mbak Ina yang dibicarakan muncul sambil membawa secarik kertas. Temannya langsung bertanya,”Gimana, bisa?” Si mbak Ina tak langsung menjawab tapi melirik ke arah saya yang dari dia datang memperhatikannya. Sambil tersenyum dengan perasaan tidak enak karena diperhatikan dia berkata ke temannya yang bertanya, “Aku mau mewek nih, biasalah orang itu” jawabnya sambil langsung jongkok dibalik meja kerja. Tak lama terdengar isak tangis yang ditahan dan langsung di tenangkan temannya yang masih terus mengerjakan bungkus kado saya. “Udah… yang penting dapat suratnya’. “Tapi aku ijin sakit lho dan dia gak mau kasih langsung sampai dia liat kalo orangnya udah jatuh pingsan” lanjut mbak Ina tersebut disela isakan tangis yang ditahan agar tak terdengar saya. Temannya yang lain datang mendekati,” Lain kali minta suratnya ke mbak Dewi aja, dia lebih manusiawi”. Si mbak Ina masih terduduk di balik meja sambil menyapu wajahnya dan berusaha untuk tak kelihatan habis menangis. “Orang itu memang biadab!” timpal si mbak yang membungkus kado saya. “Sekarang pulang aja, gak usah dipikirin”. “Bawa motor atau dijemput?”lanjutnya bertanya. Si mbak Ina menjawab bawa motor sambil berkemas mengambil tas tangannya. “Ati-ati ya dan gak usah dipikirin” pesan temannya yang lain memberi semangat. Si mbak Ina menyeka wajahnya lagi sambil berjalan di iringi tatapan teman-temannya. Wajahnya masih nampak sedih dengan mata sembab yang tak mungkin langsung hilang seiring kesedihan yang berusaha dia buang. Saya hanya bisa melirik sambil terbayang jika si mbak Ina itu adalah ibu atau adik perempuan saya. Mata saya kembali menatap meja, menatap tangan-tangan terampil bekerja dan melihat lipatan kertas terakhir membentuk kado yang indah di mata.

Blog EntryJul 11, '07 1:09 PM
for everyone
Tadi saya pulang kerja melewati kampung Parigi yang dibelah jalan utama menuju kawasan perumahan Bintaro Jaya dan Serpong. Waktu menunjukkan lewat jam sepuluh malam. Di ujung sudah terlihat dari kejauhan adanya keramaian, beberapa pedagang mangkal di kiri kanan jalan. Dapat ditebak kalau di depan pasti ada acara kenduri warga Betawi yang bisa dicirikan jika mengadakan hajatan dengan banyaknya pedagang keliling yang berkumpul di sekitar tempat acara. Sudah bisa dibayangkan kemeriahan pun muncul layaknya pasar malam. Menjelang tenda utama kemacetan semakin terasa. Walau waktu sudah menjelang tengah malam namun acara justru semakin ramai. Terutama didominasi oleh para pemuda dan gadis-gadis yang telah berhias sedemikian rupa. Ternyata tenda utama memakan hampir setengah badan jalan, saya berhenti sejenak menikmati keramaian itu. Entah mengapa saya selalu tertarik dengan acara kenduri yang masih dilaksanakan dengan ciri daerah yang kental. Saat itu bisa dilihat dan dirasakan bahwa acara yang berlangsung benar-benar milik mereka yang sedang berbahagia. Tak peduli dengan jalan yang menjadi macet atau hiburan yang terdengar sampai sedemikian jauh. Terbukti saat saya melewati tenda utama terlihat susunan meja dengan hidangan yang masih lengkap. Tuan rumah masih menyambut tetamu yang datang, suguhan makanan dinikmati dibawah tenda plastik memanjang menyusuri pinggiran jalan. Suasana terang benderang dan diujung terlihat undakan kecil tempat penganten duduk bersanding. Mereka mengenakan pakaian penganten moderen. Mempelai wanita dengan gaun putih panjang dan pasangan pria mengenakan jas lengkap berwarna hitam. Wajah mereka terlihat letih walau penganten pria tetap senyum dan berusaha menggoda pasangannya. Semua dapat dilihat oleh semua orang dari kendaraan yang lalu lalang di sisi tenda.
Keramaian tak hanya disana. Di belakang toko-toko yang berdiri menghadap tenda ternyata ada panggung hiburan. Sebuah gang kecil menjadi jalan lewat untuk tamu agar bisa mendekati hiburan dangdut yang sedang berlangsung. Ujung gang telah ramai oleh pengunjung sehingga cukup berdesakan jika memaksa masuk mendekati panggung. Lampu sorot warna-warni yang menyinari langit cukup menggambarkan keceriaan panggung tersebut. Tak jauh dari tenda utama terlihat layar besar di sisi kanan jalan menjorok ke tengah sebuah tanah kosong. Disana dipancarkan proyektor dari adegan dangdut dipanggung tadi sehingga penonton yang tak bisa mendekati panggung utama bisa menikmati goyangan para pengunjung di layar kain yang membentang.
Sungguh sebuah acara yang meriah seakan semua sisi jalan dilingkupi oleh suasana suka cita. Sambil terus berjalan saya masih sempat membaca tulisan di selembar kertas yang tergantung di sisi tenda. Bertuliskan pihak keluarga yang punya hajatan. Jujur saya tak bisa membayangkan jika saya yang punya hajat atau yang menjadi penganten dalam kemeriahan itu. Begitu banyak pertimbangan yang harus dipahami dan tak mudah untuk bisa menjadi mengerti. Lepas dari itu semua, semoga acara tersebut berjalan lancar dan pasangan tersebut selalu dipayungi kebahagiaan. Malam ini saya mendapat pengalaman sesaat yang cukup berkesan untuk dilewati.



Photo AlbumIbu dan anak-anaknya.Jul 2, '07 2:39 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Semoga...

Photo Albumthe peak dan jerry panikJun 15, '07 7:08 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sungguh sebuah perjalanan yang tak terduga, baik kapan berangkatnya, kemana arah tujuannya dan pulang lagi ke Jakarta. Namun semua penuh dengan peristiwa tak terduga, happy anniversary! buat sdr Jerry...:)

Photo AlbumRainbow WarriorJan 25, '07 5:17 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Blog EntryDec 26, '06 3:29 AM
for everyone

Aku kira: Beginilah nanti jadinya
Kau kawin,beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa apa
Aku terpanggang tinggal rangka


Chairil Anwar
Feb 1943

Blog EntryNov 25, '05 8:32 AM
for everyone
Menunggu hujan dengan mengisi malam. Mengurai kelam mencari terang. Menunggu teman beranjak pulang...